IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia -> Sekilas,apa yang dilakoni Sarwono Adjie memang terlihat santai dan menyenangkan,dikelilingi aneka makanan lezat setiap waktu sambil mengamati karakteristik setiap pengunjung yang datang.
TAK jarang, ia duduk di salah satu pojok tempat, sekadar merasakan suasana yang di hadirkan.Namun, pekerjaan tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan. Sebab, sebagai konsultan kafe dan resto, Sarwono memiliki tanggung jawab yang besar atas keberhasilan sebuah usaha kuliner yang dibangun.
Saat disambangi SINDO di Fay Café & Resto yang saat ini ia pegang, Sarwono terlihat menyambut ramah dan hangat.Tak lama, kami duduk di salah meja yang berada di tengah kafe. Di temani segelas ice tea lemon dan makanan ringan, Pria kelahiran Banyumas, 12 Mei 1979 bercerita singkat tentang perjalanannya menggeluti dunia kuliner yang hingga kini telah mengantarkannya menjadi seorang konsultan kafe yang cukup andal. Menurut Sarwono,profesi yang ia jalani saat ini berawal dari kebiasaan di rumah. Sebagai, anak seorang pengusaha katering kecil-kecilan di Jakarta,Sarwano yang kala itu masih remaja kerap membantu ibunya,Onmay,memasak di dapur. Tak hanya sekadar memotong sayur- sayuran dan bahan lainnya.Lebih dari itu,Sarwono juga membantu meracik beberapa bumbu masakan yang hendak diolah.
Hal ini pada akhirnya membuat Sarwono sedikit banyak paham akan aneka masakan. “Sebenarnya saya gak ada minat khusus dengan dunia kuliner ini.Tapi,Ibu saya kanpunya usaha katering.Jadi,karena sering lihat dan bantu akhirnya saya jadi bisa.Dari sini saya pun jadi terbiasa dengan dapur dan masakan,” ujar Sarwono kemarin. Tahun 1997,Sarwono pun mendapat tawaran dari seorang temannya untuk bergabung di kedai Bakmi GM Jakarta. Seperti sebuah kebetulan, Sarwono yang memang penggemar mi ini, tak membuang kesempatan tersebut. Menempati bagian sebagai koki produksi saat itu, ayah dua anak ini pun banyak belajar dan mengenal tentang seluk beluk membuat mi. Mulai dari cara membuat mi, menentukan tingkat kekenyalan hingga kepada tekstur mi yang halus.Tak hanya itu,di kedai Bakmi GM ini,Sarwono juga banyak mempelajari aneka masakan China lainnya.
Seperti masakan peking, seafood, aneka saus dan lain-lain. “Bisa saya bilang bahwa kedai Bakmi GM ini bukan hanya tempat saya bekerja,namun juga tempat saya sekolah.Dari awalnya saya hanya tahu masakan rumahan Indonesia dari katering ibu saya namun sejak bergabung di Bakmi GM saya mulai tahu aneka masakan China,” ungkap Sarwono. Pada 2002, lanjut Sarwono, ia pun memutuskan pindah dari kedai Bakmi GM ke Bakmi Tebet. Di tempat ini,Sarwono pun mendapat kepercayaan untuk memegang dan mengatur segala teknik operasionalnya secara langsung. Bahkan, berkat kerja kerasnya bersama tim, Bakmi Tebet pun mampu berkembang pesat hingga membuka sebanyak 80 cabang di Jakarta.
“Saat pindah dari Bakmi GM ke Bakmi Tebet, niat saya hanya ingin menambah pengalaman dan mengembangkan kemampuan. Namun, saya tetap tak akan lupa dengan Bakmi GM yang telah memberikan tempat dan kesempatan dalam merintis karier di bidang kuliner,” papar dia. Namun, kata Sarwono, memiliki posisi yang bagus dan karier yang cukup nyaman tak lantas membuatnya puas. Ia pun masih ingin belajar lebih banyak,khususnya untuk olahan masakan dengan bahan dasar mi. Alasan ini pula, yang akhirnya membuat Sarwono berani hijrah dari Bakmi Tebet ke Bakmi Japos pada 2004.Ia meninggalkan posisinya sebagai operasional teknik dan kembali bekerja sebagai karyawan biasa.
“Di sini, saya kembali menjadi karyawan biasa, sambil terus mendalami aneka masakan tentang mi dan sausnya. Sebab, bagi saya setiap tempat tentu memiliki kelebihan dan keunikan rasanya sendiri,” ucap dia.